APRESIASI PUISI KARYA JOKO PINURBO DENGAN PENDEKATAN SOSIO-PSIKOLOGIS
APRESIASI PUISI KARYA JOKO PINURBO DENGAN
PENDEKATAN SOSIO-PSIKOLOGIS
Ula Nabila, 160211600141
Univrsitas Negeri Malang, S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
email: ulanabila2@gmail.com
Pendahuluan
Tiga puisi yang menjadi objek kajian analisis pada artikel ini adalah puisi
dengan judul Baju Baru dan Durrahman dalam buku kumpulan puisi berjudul: Malam
Ini Aku Akan Tidur di Matamu karya Joko Pinurbo yang diterbitkan pada tahun
2016. Puisi dengan judul Jalan-Jalan Bersama Presiden dalam buku kumpulan puisi
berjudul: Buku Latihan Tidur karya Joko Pinurbo yang diterbitkan pada tahun
2017. Ketiga puisi tersebut memiliki kesamaan pada objek yang dibahas yaitu
presiden. Puisi Baju Baru bertemakan
tentang perbedaan keadaan antara rakyat dan presiden. Puisi Durrahman
bertemakan tentang kematian Gus Dur yaitu mantan presiden keempat Indonesia.
Puisi Jalan-Jalan Bersama Presiden bertemakan
curahan hati presiden tentang keadaan negaranya.
Dalam
mengapresiasi ketiga puisi tersebut, penulis menggunakan pendekatan sosio-psikologis. Pendekatan sosio-psikologis adalah sejumlah
asumsi yang mendasari cara pandang seseorang terhadap puisi yang
merepresentasikan peristiwa sosial serta refleksi penyair terhadap masalah sosial
yang terdapat pada puisi. Pendekatan sosio-psikologis merupakan pendekatan yang
berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial-budaya, kehidupan masyarakat
maupun tanggapan kejiwaan ataupun sikap penyair terhadap lingkungn masyarakat
sekitar ataupun zaman pada saat sastra itu diciptakan.
Pendekatan sosio-psikologis merupakan pendekatan yang
tepat dan sesuai untuk digunakan dalam proses analisis ketiga puisi tersebut.
Inti dari pendekatan sosio-psikologis adalah untuk mengidentifikasi dan
menghubungkan peristiwa sosial yang terjadi pada puisi dengan peristiwa sosial
yang terjadi di luar puisi, serta mengidentifikasi sikap penyair terhadap
peristiwa sosial yang terjadi pada saat puisi tersebut diciptakan. Tujuan dari hasil
penulisan apresiasi puisi lama dengan pendekatan adalah menemukan unsur-unsur
sosial dan sikap sosial penyair dalam
karya sastra.
Pendekatan
sosiologis
mempunyai asumsi bahwa karya sastra adalah representasi dari peristiwa sosial, refleksi
penyair terhadap masalah sosial.
Tujuan
pendekatan sosio-psikologis yaitu menemukan unsur-unsur
sosial dan sikap sosial penyair dalam
karya sastra.
Prosedur
apresiasi yang
harus dilakukan dalam pendekatan sosio-psikologis.
a.
Mengidentifikasi
satuan makna puisi (makna kata, larik, bait) serta tema, nada, perasaan yang menyiratkan
peristiwa sosial.
b.
Mengidentifikasi
peristiwa sosial di luar puisi yang diduga terkait.
c.
Menghubungkan
peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi.
d.
Menyimpulkan/menafsirkan
sikap penyair terhadap peristiwa sosial
(tema, nada, perasaan).
Apresiasi1: Puisi Baju Baru
Baju Baru
Hari
ini bapak gajian.
Gaji
bapak naik sedikit,
harga-harga
naik banyak.
Bapak
belikan aku baju,
hadiah
naik kelas.
Bajuku
bagus, bagus bajuku,
bergambar
presiden naik becak,
tukang
becaknya mirip bapak.
Presidennya
tertawa,
tukang
becakknya pura-pura tertawa.
Presidennya
berteriak “Merdeka!”
tukang
becaknya berteriak “Merdeka!”
Seminggu
dipakai terus,
bajuku
dicuci ibu.
Ibu
bingung, habis dicuci
bajuku
rusak gambarnya.
Becaknya
masih,
tukang
becaknya masih,
Tapi
presidennya entah kemana.
Karya Joko Pinurbo, 2011
1.
Mengidentifikasi
satuan makna puisi serta tema, nada,
perasaan yang menyiratkan peristiwa sosial.
Identifikasi
satuan makna puisi serta tema, nada,
perasaan yang menyiratkan peristiwa sosial puisi Baju
Baru dapat dilihat pada makna bait dan totalitas makna berikut.
Digambarkan bahwa hari ini bapak mendapatkan gaji. Gaji
bapak naik sedikit sedangkan harga-harga kebutuhan pokok sedang naik semua. Bapak
membelikan baju untuk anaknya sebagai hadiah naik kelas. Bajunya sangat bagus
bergambar presiden yang sedang naik becak. Tukang becak digambarkan sebagai
bapak atau masyarakat Indonesia. Presidennya tertawa puas dan bahagia, tetapi
rakyatnya hanya pura-pura tertawa puas dan bahagia. Presiden berteriak merdeka
dengan lantang dan rakyatnya hanya ikut-ikut teriak merdeka. Baju baru itu setelah
seminggu dipakai terus lalu dicuci oleh ibu. Ibu merasa kebingungan karena setelah dicuci
bajuna menjadi rusak. Digambarkan rakyatnya masih ada dan berada pada tempatnya
atau keadaan yang sama sedangkan presidennya tidak peduli dengan keadaan yang
dialami rakyatnya.
Totalitas makna dalam puisi tersebut adalah sebagai
berikut.
Menceritakan tentang seorang bapak yang mendapatkan gaji
rendah karena harga kebutuhan pokok sedang naik. Baju baru yang dibelikan bapak
bergambar seorang presiden sedang naik becak. Tukang becaknya diartikan
sebagai rakyat kecil. Presidennya tertawa
bahagia namun rakyatnya belum tentu bahagia, presidennya merasa merdeka namun
rakyatnya belum tentu merasa merdeka. Hingga akhirnya rakyatnya tetap pada
keadaan yang sama sedangkan presidenya tidak peduli dengan keadaan rakyatnya.
Dari totalitas makna tersebut, dapat disimpulkan bahwa tema puisi tersebut
adalah “perbedaan antara keadaan rakyat dan presidennya”. Nada yang tersirat
dalam puisi tersebut, yakni menunjukkan sindiran kepada seorang presiden.
Perasaan yang tergamar di dalamnya, yakni penyair ingin mengungkapkan rasa
kekecewaanya terhadap keadan di negera Indonesia yang sudah merdeka namun
banyak rakyat Indonesia yang masih hidup sengsara.
2.
Mengidentifikasi
peristiwa sosial di luar puisi yang diduga terkait.
Identifikasi peristiwa di luar puisi Baju Baru yang diduga terkait dapat dilihat pada penjelasan
berikut.
Pada puisi Baju Baru baris kedua dan ketiga.
Gaji bapak naik
sedikit,
harga-harga naik banyak.
Puisi Baju Baru ditulis pada tahun 2011 oleh Joko
Pinurbo yang pada saat itu bangsa Indonesia sedang dilanda masalah perekonomian.
Tahun 2011 bangsa Indonesia memang
sedang dilanda krisis ekonomi, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono periode kedua. Pada saat itu gaji yang diterima para pekerja atau buruh
dibilang rendah karena harga-harga kebutuhan pokok melonjak naik. Harga
sembako, daging, listrik, cabai, dan lain sebagainya sedang melambung tinggi
dan membuat banyak masyarakat Indonesia mengeluh.
Pada baris kesembilan
sampai kedua belas
Presidennya
tertawa,
tukang
becakknya pura-pura tertawa.
Presidennya
berteriak “Merdeka!”
tukang
becaknya berteriak “Merdeka!”
Pada baris tersebut tukang becak digambarkan sebagai
rakyat kecil. Hal ini memperlihatkan bahwa kemerdekaan yang dimiliki negara
Indonesia ini belum tentu menjadi kemerdekaan semua warga negara Indonesia.
Pada saat itu banyak rakyat yang masih hidup sengsara meskipun negara Indonesia
sudah merdeka. Presiden terlihat sudah merdeka dengan segala kekuasaannya
sedagkan rakyat kecil masih harus hidup kesusahan di negara yang katanya sudah
merdeka ini.
3.
Menghubungkan
peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi.
Hubungan peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi Baju Baru dapat dilihat pada penjabaran berikut.
Peristiwa sosial yang ada di dalam puisi Baju Baru karya
Joko Pinurbo ini menceritakan sebuah keluarga yang bapaknya menerima gaji
rendah sedangkan harga kebutuhan pokok sedang naik. Bapak membelikan baju baru
untuk anaknya yang bergambar presiden sedang naik becak. Tukang becaknya
seperti bapak. Presidennya tertawa dan teriak merdeka. Tukang becaknya
pura-pura tertawa dan ikut teriak merdeka.
Peristiwa sosial yang ada di dalam puisi ini berkaitan
dengan peristiwa sosial yang sedang terjadi di Indonesia pada saat itu.
Indonesia sedang mengalami masalah dalam ekonomi ketika para karyawan ataupun
buruh merasakan kenaikan gaji namun kenaikan harga kebutuhan pokok lebih
tinggi. Akhirnya disangkut pautkan dengan kekuasaan presiden yang sudah
membuatnya bahagia dan hidup merdeka. Dimana peran presiden disaat rakyatnya
yang hidup sengsara di tengah negara yang sudah merdeka ini?
4.
Menyimpulkan/menafsirkan
sikap penyair terhadap peristiwa sosial (tema, nada, perasaan).
Sikap penyair terhadap persitiwa sosial yang diketahui
dari tema, nada, dan perasaan pada puisi Baju Baru dapat dilihat pada
penjabaran sebagai berikut.
Pada
tahun 2011 Joko Pinurbo merupakan salah satu peyair terkenal di Indonesia. Joko
Pinurbo pada saat itu berumur 49 tahun. Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa
Barat 11 Mei 1962. Joko Pinurbo menempuh pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
di IKIP Sanata Darma Yogyakarta yahun 1987. Pada puisi ciptaannya ini dia
menempatkan diri sebagai rakyat kecil. Tema puisi yang diketahui adalah
perbedaan antara keadaan rakyat dan presidennya. Nada yang tersirat dalam puisi
tersebut, yakni menunjukkan sindiran kepada seorang presiden. Perasaan yang
tergamar di dalamnya, yakni penyair ingin mengungkapkan rasa kekecewaanya
terhadap keadan di negera Indonesia yang sudah merdeka namun banyak rakyat
Indonesia yang masih hidup sengsara.
Dari tema, nada, dan perasaan yang disampaikan terlihat
penyair merasa kecewa dengan presiden dan menyindirnya karena tidak bisa
menyelesaikan masalah ekonomi yang sedang terjadi pada saat itu. Masalah
ekonomi membuat rakyat kecil hidup sengsara di negara yang katanya sudah
merdeka. Di sini penyair menyindir presiden tentang dimana perannya sebagai
kepala negara dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi pada negaranya. Joko
Pinurbo memang terkenal dengan karya-karya puisinya yang suka menyindir. Tidak
hanya pemerintah namun juga masyarakat ataupun orang-orang sebagai manusia. Hal
ini menunjukkan bahwa Joko Pinurbo merasa bersimpati pada rakyat kecil.
Apresiasi 2: Puisi Durrahman
Durrahman
Mengenakan kemeja
dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian
di beranda istana. Dua burung gereja
hinggap di ata bahunya, bercicit
dan menari riang. Senja melangkah tegap,
memberinya salam hormat, kemudian berderap
ke dalam matanya yang hangat dan terang.
Di depan mikrfon
Durrahman mengucapkan
pidato singkatnya: “Hai umatku tercinta,
dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
Akan kubereskan sekarang juga.”
Dua ekor burung gereja
Menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya,
lalu dilambai-lambaikannya ke arah ribuan orang
yang mengelu-elukan dari seberang
Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga
yang tak binasa. Hatimu suaka
bagi segala umat yang ingin
membangun kembali puing-puing cinta,
ibu kota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kami semua ingin jadi presiden,
baju presidenmu sudah lebih dulu kau tanggalkan.
Karya Joko Pinurbo, 2010
1.
Mengidentifikasi
satuan makna puisi serta tema, nada,
perasaan yang menyiratkan peristiwa sosial.
Identifikasi
satuan makna puisi serta tema, nada,
perasaan yang menyiratkan peristiwa sosial puisi Durrahman
dapat dilihat pada makna bait dan totalitas makna berikut.
Dengan memakai kemeja dan celana putih Gus Dur berdiri di
depan istana. Dua burung gereja digambarkan sebagai pengawalnya. Semua orang
memberinya salam hormat.
Gus Dur menyampaikan pidato kepada para pendukungnya
singkatnya tentang dia yang harus berhenti atau lengser dari jabatannya sebagai
presiden negara Indonesia.
Setelah selesai menyampaikan pidato singkat akhirnya Gus
Dur mengundurkan diri sambil melambaik-lambaikan tangannya kepada para
pendukungnya yang hendak melihatnya dari seberang istana.
Selamat jalan Gur Dur. Digambarkan bahwa di dalam dirinya
tetap ada seorang pujangga yang tidak pernah hilang, yang baik hatinya, dan
menjadi tempat keluh kesah masyarakat yang teraniaya. Ketika semua orang
berebut tempat untuk menjadi presiden, namun Gus Dur lebih memilih lengser dari
jabatannya sebagai presiden
Totalitas makna dari puisi tersebut sebagai berikut.
Gus Dur memakai kemeja dan celana pendek
putih saat berdiri di depan istana untuk
memberikan pidato singkat atas dirinya yang harus mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai presiden. Setela menyampaikan pidatonya Gus Dur mengundurkan
diri sambil melabai-lambaikan tangan kepada para orang-orang yang ingin melihatnya
dari seberang istana. Selamat jalan Gus
Dur mengambarkan bahwa Gus Dur telah meninggal. Gus Dur dikenang sebagai
seorang yang baik hatinya dan juga bijaksana. Saat semua orang berebut tempat
untuk menjadi presiden namun Gus Dur memilih untuk mengundurkan diri sebagai
presiden
Dari totalitas makna tersebut, dapat disimpulkan bahwa
tema puisi tersebut adalah “kematian Gus Dur”. Nada yang tersirat dalam puisi
tersebut, yakni menunjukkan kesedihan atas meninggalnya Gus Dur. Perasaan yang
tergamar di dalamnya, yakni penyair ingin mengungkapkan rasa duka yang mendalam
atas kematian Gus Dur dan juga rasa kagumnya akan sosok Gus Dur.
2.
Mengidentifikasi
peristiwa sosial di luar puisi yang diduga terkait.
Identifikasi peristiwa di luar puisi Durrahman yang diduga terkait dapat dilihat pada penjelasan
berikut.
Pada puisi Durrahman bait pertama.
Mengenakan kemeja
dan celana pendek
putih,
Durrahman berdiri
sendirian
di beranda istana. ......
...................................
Pada bait pertama ini sangat jelas menggambarkan peristiwa pada hari Senin 23 Juli 2001,
sejak
pukul 16.53 Gus Dur sudah bukan Presiden RI lagi. Sebab di Senayan, MPR yang
menyelenggarakan Sidang Istimewa sudah melantik Megawati sebagai penggantinya.
Sementara para pendukung Gus Dur yang berkerumun depan Istana, hingga pukul
20.45 akhirnya dapat melihat Gus
Dur yang hanya mengenakan kaos oblong dan
celana pendek. Gus Dur memberikan arahan terhadap massanya yang berkumpul di depan istana agar
tidak melakukan tindakan yang bersifat anarkis terkait pencopotan statusnya
sebagai seorang presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Pada puisi Durrahman bait keempat
Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga
yang
tak binasa. ...................
...............................................
Puisi Durrahman ditulis pada tahun 2010 oleh Joko
Pinurbo yang pada saat itu tepat setelah meninggalnya mantan presiden keempat
negara Indonesia yaitu K.H Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur pada pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo, Jakarta tanggal 30 Desember 2009 di RSCM. Pada saat itu semua masyarakat Indonesia sedang berduka
atas meninggalnya Gus Dur. Bahkan presiden yang sedang menjabat pada saat itu
yaitu Susilo Bambang Yudhoyono sedang berada di RSCM ketika Gus Dur meninggal.
3.
Menghubungkan
peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi.
Hubungan peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi Durrahman dapat dilihat pada penjabaran
berikut.
Ada dua peristiwa sosial yang terdapat pada puisi Durrahman karya Joko
Pinurbo. Penyair ingin menyampaikan dua perististiwa sosial yang terkait sekaligus
dalam satu puisi. Yang pertama yaitu pelengseran Gus Dur sebagai
presiden dan peristiwa meninggalnya Gus Dur karena puisi ini diciptakan pada
tahun 2010 tepat saat setelah meninggalnya Gus Dur pada tanggal 30 Desember
2009. Di dalam puisi Durrahman karya
Joko Pinurbo ini kedua peristiwa tersebut dijadikan satu atau digabungkan.
Faktanya di luar puisi keduanya adalah perstiwa sosial yang berbeda dan terjadi
ditahun yang berbeda pula.
4.
Menyimpulkan/menafsirkan
sikap penyair terhadap peristiwa sosial (tema, nada, perasaan).
Sikap penyair terhadap persitiwa sosial yang diketahui
dari tema, nada, dan perasaan pada puisi Durrahman dapat dilihat pada
penjabaran sebagai berikut.
Joko
Pinurbo merupakan salah satu peyair terkenal di Indonesia. Pada puisi
ciptaannya ini dia menempatkan diri sebagai masyarakat yang merasakan
kehilanagan dan duka yang mendalam atas meninggalnya mantan presiden keempat
negara Indonesia yaitu Gus Dur. Tema puisi yang diketahui adalah kematian Gus
Dur. Nada yang tersirat dalam puisi tersebut, yakni menunjukkan kesedihan atas
meninggalnya Gus Dur. Perasaan yang tergamar di dalamnya, yakni penyair ingin
mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kematian Gus Dur dan juga rasa
kagumnya akan sosok Gus Dur.
Dari tema, nada, dan perasaan yang disampaikan terlihat penyair merasa sedih
atas meninggalnya Gus Dur dan juga sangat mengagumi sosok Gus Dur yang terkenal
sebagai presiden yang sangat luar biasa dan hebat. Penyair juga menyinggung
masalah lengsernya Gus Dur dari jabatannya sebagai presiden. Dapat dilihat
bahwa penyair bersimpati pada almarhum Gus Dur.
Apresiasi 3: Puisi Jalan-Jalan Bersama Presiden
Jalan-Jalan Bersama Presiden
Saya dan presiden
menyusuri jalanan kota
yang tadi siang
dipadati ribuan pengunjuk rasa
Desember dingin dan
basah. Negara lelah.
Payung
bergrlantungan di dahan pohon.
Malam menggigil
bersama ribuan slogan
yang menumpuk di
tempat sampah.
Saya dan presiden tertegun
di depan patung
yang sedang
merenung. Presiden tiba-tiba
membacakan sepotong
sajak Rendra:
“Kau tak akan
mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi
kemerdekaan tanpa cinta.”*
Sepi setuju. Saya
dan patung terharu.
Angin membelai-belai jaket presidenku.
Karya Joko Pinurbo, 2016
*Rendra, “Kangen”, dalam Empat Kumpulan Sajak (1961)
1.
Mengidentifikasi
satuan makna puisi serta tema, nada,
perasaan yang menyiratkan peristiwa sosial.
Identifikasi
satuan makna puisi serta tema, nada,
perasaan yang menyiratkan peristiwa sosial puisi Jalan-Jalan
Bersama Presiden dapat dilihat pada makna bait dan totalitas makna berikut.
Aku liris jalan-jalan bersama presiden ke kota setelah
terjadi demonstrasi.
Pada bulan desember dimusim hujan dan masyarakat maupun
presidennya lelah.
Bekas demonstrasi terlihat dari slogan-slogan yang dibuang di tempat sampah.
Ketika sedang tertegun memikirkan semua ini tiba-tiba presiden mencurahkan isi hatinya
Presiden merasakan kesepian ketika menghadapi kemerdekaan
yang terjadi tanpa adanya cinta.
Aku liris setuju dan merasa terharu juga kasihan kepada
presiden.
Totalitas makna dari puisi tersebut sebagai berikut.
Digambarkan setelah terjadinya demonstrasi yang diikuti
ribuan orang pada bulan desember dimusim hujan. Masyarakat maupun presidennya
sudah lelah. Bekas demonstrasi yaitu slogan-slogan berceceran di tempat sampah
pinggir jalan. Ketika sedang melamun presiden tiba-tiba mencurahkan isi hatinya
tentang rasa kesepiannya menghadapi kemerdekaan tanpa cinta. Aku liris merasa
terharu dan juga kasihan kepada presiden.
Dari totalitas makna tersebut, dapat disimpulkan bahwa
tema puisi tersebut adalah “curahan hati presiden tentang keadaan negaranya”.
Nada yang tersirat dalam puisi tersebut, yakni menunjukkan kekhawatiran pada
keadaan negara pada saat ini. Perasaan yang tergamar di dalamnya, yakni penyair
ingin mengungkapkan perasaan prihatinnya kepada keadaan di negara Indonesia.
2.
Mengidentifikasi
peristiwa sosial di luar puisi yang diduga terkait.
Identifikasi peristiwa di luar puisi Jalan-Jalan Bersama Presiden yang diduga terkait dapat dilihat pada
penjelasan berikut.
Pada puisi Jalan-Jalan Bersama Presiden bait pertama dan kedua.
Saya dan presiden menyusuri
jalanan kota
yang
tadi siang dipadati ribuan pengunjuk rasa
Desember
dingin dan basah. Negara lelah.
Puisi dengan judul Jalan-Jalan
Bersama Presiden ini diciptakan oleh Joko Pinurbo tahun 2016. Pada bulan
Desember tahun 2016 terjadi demonstrasi besar-besaran tepatnya pada tanggal 2
Desember 2016 yang disebut aksi damai 212. Sebanyak tiga
juta orang diperkirakan mengikuti aksi damai yang dipusatkan di Monas,
Jakarta Pusat. Sebab, banyak warga dari luar Jakarta yang ke Ibu Kota menuntut
agar Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ditahan
terkait dugaan penistaan agama. Pada saat itu demo berlangsung mulai
pukuk 08.00 WIB hingga 13.00 WIB
Pada baris kelima dan keenam.
Malam
menggigil bersama ribuan slogan
yang
menumpuk di tempat sampah.
Pada saat demo berlangsung para pengunjuk rasa membawa
slogan-slogan yang bertuliskan protes mereka atas tindakan Ahok yang dianggap
menistakan agama. Pengunjuka rasa menuntut agar Ahor segera dipenjarakan. Aksi
demo pada 2 Desember yang merupakan lanjutan dari aksi demo pada tanggal 4
November 2016 ini membuat Indonesia mengalami krisi politik. Aksi ini dianggap
merugikan banyak pihak dan sangat kontroversial. Sebab Ahok merupakan warga
negara Indonesia yang memeluk agama kristen sedangkan para pendemo mayoritas
adalah warga negara Indonesia yang memeluk agama islam.
3.
Menghubungkan
peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi.
Hubungan peristiwa sosial dalam puisi dan di luar puisi Jalan-Jalan Bersama Presiden dapat
dilihat pada penjabaran berikut.
Peristiwa
sosial yang ada di dalam puisi ini sangat jelas menggambarkan peristiwa aksi
damai yang terjadi pada tanggal 2 Desember 2016. Aksi damai ini dilaksanakan di
sekitar Monas yang diperkirakan hingga jutaan pengunjuk rasa yang mengikuti
aksi tersebut. Aksi damai ini dimaksudkan untuk menuntut agar
Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ditahan terkait
dugaan penistaan agama. Aksi ini berlangsung mulai pukul 08.00
WIB hingga 13.oo WIB karena merupakan sudah kesepakatan dari GNPF
MUI dan Kepolisian Republik Indonesia.
Pada
saat itu Presiden Joko Widodo yang biasa dipanggil pak Jokowi dan wakilnya
Jusuf Kalla ikut turun untuk berjalan dan hujan-hujanan demi salat Jumat
berjemaah di jalan dengan para peserta aksi damai 2 Desember 2016.
4.
Menyimpulkan/menafsirkan
sikap penyair terhadap peristiwa sosial (tema, nada, perasaan).
Sikap penyair terhadap persitiwa sosial yang diketahui
dari tema, nada, dan perasaan pada puisi Jalan-Jalan Bersama Presiden dapat
dilihat pada penjabaran sebagai berikut.
Pada
puisi ini Joko Pinurbo menempatkan dirinya sebagai masyarakat biasa yang
melihat peristiwa aksi damai. Penyair berpihak kepada presiden yang menanggapi
hal ini secara netral, tidak memihak kesiapapun. Tema puisi yang diketahui
adalah curahan hati presiden tentang keadaan negaranya. Nada yang tersirat
dalam puisi tersebut, yakni menunjukkan kekhawatiran pada keadaan negara pada
saat ini. Perasaan yang tergambar di dalamnya, yakni penyair ingin
mengungkapkan perasaan prihatinnya kepada keadaan di negara Indonesia.
Dari tema, nada, dan perasaan yang disampaikan terlihat penyair merasa
khawatir dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia. Negara Indonesia memang
sudah merdeka namun masih banyak hal-hal yang terjadi seperti demonstrasi
besar-besaran. Penyair berpandangan bahwa hal ini seperti menunjukkan
kemerdekaan Indonesia yang tanpa disertai rasa cinta diantaran warga negaranya.
Kesimpulan
Dari ketiga puisi tersebut
dapat diketahui bahwa Joko Pinurbo mampu menampilkan atau menunjukkan dan juga
menghubungkan peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi di Indonesia melalui
puisi-puisi yang diciptakan. Sikap dari penyair atas peristiwa-peristiwa yang
terjadi dapat dilihat dari analisis makna, tema, nada, dan perasaan yang
ditemukan pada puisi.
Pada
puisi yang berjudul Baju Baru karya Joko Pinurbo tema puisi yang diketahui
adalah perbedaan antara keadaan rakyat dan presidennya. Nada yang tersirat
dalam puisi tersebut, yakni menunjukkan sindiran kepada seorang presiden.
Perasaan yang tergamar di dalamnya, yakni penyair ingin mengungkapkan rasa kekecewaanya
terhadap keadan di negera Indonesia yang sudah merdeka namun banyak rakyat
Indonesia yang masih hidup sengsara.
Selanjutnya pada puisi yang berjudul Durrahman karya Joko
Pinurbo tema puisi yang diketahui adalah kematian Gus Dur. Nada yang tersirat dalam
puisi tersebut, yakni menunjukkan kesedihan atas meninggalnya Gus Dur. Perasaan
yang tergamar di dalamnya, yakni penyair ingin mengungkapkan rasa duka yang
mendalam atas kematian Gus Dur dan juga rasa kagumnya akan sosok Gus Dur.
Dan yang terakhir adalah puisi yang berjudul Jalan-Jalan
Bersama Presiden karya Joko Pinurbo tema puisi yang diketahui adalah curahan
hati presiden tentang keadaan negaranya. Nada yang tersirat dalam puisi
tersebut, yakni menunjukkan kekhawatiran pada keadaan negara pada saat ini.
Perasaan yang tergambar di dalamnya, yakni penyair ingin mengungkapkan perasaan
prihatinnya kepada keadaan di negara Indonesia.
Daftar
Rujukan
Dana. 2011. Bografi
Joko Pinurbo. (Online), (http://danakaryabakti-indonesianpoems.blogspot.co.id/2011/08/biografi-joko-pinurbo.html) diakses
pada 30 November 2017.
Galih, B. 2009. 30 Desember 2009, Gus Dur Tutup Usia. (Online), (http://nasional.kompas.com/read/2016/12/30/09511671/30.desember.2009.gus.dur.tutup.usia.)
diakses pada 02 DesembeR 2017.
Revianur, A. 2012. Yenny:
Gus Dur Lengser Bukan karena Kasus Korupsi. (Online), (http://nasional.kompas.com/read/2012/11/29/15214067/Yenny.Gus.Dur.Lengser.Bukan.karena.Kasus.Korupsi)
diakses pada 03 Desember 2017
Rozie, F. 2016. Peserta
Aksi Damai 2 Desember Mulai Bubarkan Diri. (Online), (http://news.liputan6.com/read/2667712/peserta-aksi-damai-2-desember-mulai-bubarkan-diri)
diakses 03 Desember 2017.
Voa Isam. 2012. Sejarah Mencatat, Bagaimana Gus Dur
Dilengserkan Rakyat Indonesia. (Online), (http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/11/29/22056/sejarah-mencatat-bagaimana-gus-dur-dilengserkan-rakyat-indonesia/;#sthash.S5EYPNWY.dpbs)
diakses pada 02 Desember 2017
Lampiran
Tabel 1. Analisis Struktur Batin Puisi Baju
Baru Karya Joko Pinurbo
|
Baju Baru
Hari
ini bapak gajian.
Gaji
bapak naik sedikit,
harga-harga
naik banyak.
Bapak
belikan aku baju,
hadiah
naik kelas.
Bajuku
bagus, bagus bajuku,
bergambar
presiden naik becak,
tukang
becaknya mirip bapak.
Presidennya
tertawa,
tukang
becakknya pura-pura tertawa.
Presidennya
berteriak “Merdeka!”
tukang
becaknya berteriak “Merdeka!”
Seminggu
dipakai terus,
bajuku
dicuci ibu.
Ibu
bingung, habis dicuci
bajuku
rusak gambarnya.
Becaknya
masih,
tukang
becaknya masih,
Tapi
presidennya entah kemana.
|
Makna Bait
Hari ini bapak mendapatkan gaji. Gaji bapak naik sedikit sedangkan
harga-harga kebutuhan pokok sedang naik semua.
Bapak membelikan baju untuk anaknya sebagai hadiah naik kelas
Bajunya sangat bagus bergambar presiden yang sedang naik becak. Tukang
becak digambarkan sebagai bapak atau masyarakat Indonesia.
Presidennya tertawa puas dan bahagia, tetapi rakyatnya hanya pura-pura
tertawa puas dan bahagia.
Presiden
berteriak merdeka dengan lantang dan rakyatnya hanya ikut-ikut teriak
merdeka.
Baju
baru itu setelah seminggu dipakai terus lalu dicuci oleh ibu.
Ibu
merasa kebingungan karena setelah dicuci bajuna menjadi rusak.
Digambarkan
rakyatnya masih ada dan berada pada tempatnya atau keadaan yang sama
sedangkan Presidennya sudah lengser dari jabatannya.
|
Totalitas Makna
Menceritakan tentang seorang bapak yang mendapatkan gaji rendah karena
harga kebutuhan pokok sedang naik. Baju baru yang dibelikan bapak bergambar
seorang presiden sedang naik becak. Tukang becaknya diartikan sebagai rakyat kecil. Presidennya tertawa bahagia
namun rakyatnya belum tentu bahagia, presidennya merasa merdeka namun
rakyatnya belum tentu merasa merdeka. Hingga akhirnya rakyatnya tetap pada
keadaan yang sama sedangkan presidenya tidak.
Tema: perbedaan antara keadaan
rakyat dan presidennya
Nada: menunjukkan sindiran kepada presiden
Perasaan: penyair ingin mengungkapkan rasa kekecewaanya terhadap keadan
di negera Indonesia yang sudah merdeka namun banyak rakyat Indonesia yang
masih hidup sengsara.
|
Tabel 2. Analisis Struktur Batin Puisi Durrahman
Karya Joko Pinurbo
|
Durrahman
Mengenakan kemeja
dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian
di beranda istana. Dua burung gereja
hinggap di ata bahunya, bercicit
dan menari riang. Senja melangkah tegap,
memberinya salam hormat, kemudian berderap
ke dalam matanya yang hangat dan terang.
Di depan mikrofon
Durrahman mengucapkan
pidato singkatnya: “Hai umatku tercinta,
dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
Akan kubereskan sekarang juga.”
Dua ekor burung gereja
Menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya,
lalu dilambai-lambaikannya ke arah ribuan orang
yang mengelu-elukan dari seberang
Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga
yang tak binasa. Hatimu suaka
bagi segala umat yang ingin
membangun kembali puing-puing cinta,
ibu kota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kami semua ingin jadi presiden,
baju presidenmu sudah lebih dulu kau tanggalkan.
|
Makna Bait
Dengan memakai kemeja dan celana putih Gus Dur berdiri di depan istana.
Dua burung gereja digambarkan sebagai pengawalnya. Semua orang memberinya
salam hormat.
Gus Dur
menyampaikan pidato kepada para pendukungnya singkatnya tentang dia yang
harus berhenti atau lengser dari jabatannya sebagai presiden negara Indonesia.
Setelah
selesai menyampaikan pidato singkat akhirnya Gus Dur mengundurkan diri sambil
melambaik-lambaikan tangannya kepada para pendukungnya yang hendak melihatnya
dari seberang istana.
Selamat
jalan Gur Dur. Digambarkan bahwa di dalam dirinya tetap ada seorang pujangga
yang tidak pernah hilang, yang baik hatinya, dan menjadi tempat keluh kesah
masyarakat yang teraniaya. Ketika semua orang berebut tempat untuk menjadi
presiden, namun Gus Dur lebih memilih lengser dari jabatannya sebagai
presiden
|
Totalitas Makna
Gus Dur memakai kemeja dan celana pendek putih
saat berdiri di depan istana untuk
memberikan pidato singkat atas dirinya yang harus mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai presiden. Setela menyampaikan pidatonya Gus Dur
mengundurkan diri sambil melabai-lambaikan tangan kepada para orang-orang
yang ingin melihatnya dari seberang istana. Selamat jalan Gus Dur mengambarkan bahwa Gus Dur telah
meninggal. Gus Dur dikenang sebagai seorang yang baik hatinya dan juga bijaksana.
Saat semua orang berebut tempat untuk menjadi presiden namun Gus Dur memilih
untuk mengundurkan diri sebagai presiden
Tema: kematian Gus Dur
Nada: menunjukkan kesedihan atas meninggalnya Gus Dur
Perasaan: penyair ingin mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas
kematian Gus Dur dan juga rasa kagumnya akan sosok Gus Dur.
|
Tabel 3. Analisis Struktur Batin Puisi Jalan-jalan
Bersama Presiden Karya Joko Pinurbo
|
Jalan-Jalan Bersama Presiden
Saya dan presiden menyusuri jalanan kota
yang tadi siang dipadati ribuan pengunjuk rasa
Desember dingin dan basah. Negara lelah.
Payung bergelantungan di dahan pohon.
Malam menggigil bersama ribuan slogan
yang menumpuk di tempat sampah.
Saya dan presiden tertegun di depan patung
yang sedang merenung. Presiden tiba-tiba
membacakan sepotong sajak Rendra:
“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.”
Sepi setuju. Saya dan patung terharu.
Angin membelai-belai jaket presidenku.
|
Makna Bait
Aku
liris jalan-jalan bersama presiden ke kota setelah terjadi demonstrasi.
Pada
bulan desember dimusim hujan dan masyarakat maupun presidennya lelah
Bekas demonstrasi
terlihat dari slogan-slogan yang
dibuang di tempat sampah
Ketika
sedang tertegun memikirkan semua ini
tiba-tiba presiden mencurahkan isi hatinya
Presiden
merasakan kesepian ketika menghadapi kemerdekaan yang terjadi tanpa adanya
cinta
Aku
liris setuju dan merasa terharu juga kasihan kepada presiden.
|
Totalitas Makna
Digambarkan setelah terjadinya demonstrasi yang diikuti ribuan orang pada
bulan desember dimusim hujan. Masyarakat maupun presidennya sudah lelah.
Bekas demonstrasi yaitu slogan-slogan berceceran di tempat sampah pinggir
jalan. Ketika sedang melamun presiden tiba-tiba mencurahkan isi hatinya
tentang rasa kesepiannya menghadapi kemerdekaan tanpa cinta. Aku liris merasa
terharu dan juga kasihan kepada presiden.
Tema: curahan hati presiden tentang keadaan negaranya.
Nada: menunjukkan kekhawatiran pada keadaan negara pada saat ini.
Perasaan: penyair ingin mengungkapakan perasaan prihatinnya kepada
keadaan di negara Indonesia.
|
Komentar
Posting Komentar